Sopan Santun Anak

Tulisan ini pernah saya tulis pada sebuah milis, Kamis, 19 Maret, 2009, 9:34 AM, menjawab sebuah pertanyaan mengenai “Sopan Santun Anak”
Bagaimana mengajarkan Sopan Santun pada anak?

Mendadak ingin membaca tulisan2 saya di zaman masih anak satu😀, dan yang ini… sungguh buat saya juga sangat bermanfaat untuk saat ini. Sebuah penyegaran memori untuk saya, semoga bisa bermanfaat bagi teman2 yang membaca. Karena saya seorang muslim, panduannya saya ambilkan dari sumber ilmu: Al Quran.

 
Sebelumnya, sedikit saya infokan, pengetahuan ini saya dapatkan dari Bpk Bachtiar Natsir, Lc (semoga kebaikan dilimpahkan Allah atas beliau karena ilmunya).

Garis besar pendidikan untuk anak dalam AlQuran dapat dilihat di QS: Lukman:12-19.

12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

==diantaranya dengan tidak mengenalkan anak pada permainan dan tontonan yang tidak sesuai, mis. film bernuansa mistis, dewa-dewa, dan senada hehehe… untuk saya hal ini termasuk Harry Potter (cerita yang bagus, tapi mungkin nanti ketika anak sudah bisa memahami apa arti tauhid yang sesungguhnya. ..)

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

==seorang anak sudah sepatutnya takut pada orang tua. Apabila seorang anak tidak bisa takut pada orang tuanya yang jelas-jelas terlihat, bagaimana dia bisa akan takut pada penciptanya yang ghaib.

Sebelum ada kesalahpahaman, takut disini adalah pengejawantahan dari perasaan cinta. Gambaran yang gampang mungkin dengan pertanyaan: pernahkah anda merasakan cinta pada seseorang, begitu dalam cinta anda, begitu sayangnya anda pada orang tersebut hingga anda begitu takut untuk kehilangan cintanya, takut kehilangan kasih sayangnya, takut kehilangan perhatiannya, takut kehilangan dirinya?
Pernahkah anda mencintai seseorang begitu dalamnya,sehingga seolah anda rela melakukan apa saja demi melihatnya bahagia, takut membuatnya bersedih karena sikap anda? Kira-kira rasa takut yang demikian yang hendaknya ditumbuhkan pada diri anak terhadap ortunya.

Bagaimana caranya mewujudkannya?
Jawabannya:
Mungkinkah seorang anak akan takut kehilangan kasih sayang orang tuanya, bila dia tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang orang tua???

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) . Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.

== maaf saya lupa, yang menerangkan pentingnya ilmu pengetahuan untuk ayat yang ini atau yang berikut..

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

==yang pasti kita tidak akan bisa tau mana baik dan benar dan mana salah dan tidak sesuai kaidah,bila tidak memiliki ilmunya.

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

==sopan santun,rendah hati dan sejenisnya sifat-sifat baik

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Secara garis besar, tahapan pendidikan anak adalah adalah bersyukur, bertauhid pada Allah, berbaktipada ortu, berilmu dan bersopansantun.

Pengetahuan yang berikut saya dapat dari Mbak Neno Warisman (semoga Allah melimpahkan kebaikan karena ilmunya):

Bahwa tahapan perkembangan pada anak a.l (semoga saya tidak salah pemahaman, InsyaAllah):

=pada usia prasekolah (6th kebawah) adalah masa pengenalan terhadap norma-norma dan segala hal.

=pada usia 7th sampai menjelang akil baligh (10-11th) adalah masa-masa pembiasaan hal-hal yang baik. Apa-apa yang kita kenalkan sebagai hal yang baik pada masa kecilnya, sebaiknya mulai diulang-ulang, diterapkan lebih intens pada usia ini, bila tidak, akan lebih sulit penerapannya kelak (walaupun bukan mustahil).

=pada usia baligh adalah masa-masa kita mulai melihat bagaimana jadinya/ output didikan kita selama ini. Penting kiranya untuk segera memperbaiki perilaku anak bila ditemukan sikap-sikap yang tidaksesuai dengan norma-norma yang kita anut dalam keluarga. Semakin dewasa seorang anak, maka perubahan2 mendasar pada dirinya akan lebih sulit (tanpa kesadaran dari diri sendiri untuk mau berubah)

Mungkin bisa lebih detail lagi kalau membaca buku mengenai perkembangan psikologis anak.

Dan pengetahuan yang berikut saya dapatkan dari banyak sumber (sudah tidak tau lagi sumbernya yang mana, bacaannya yang mana… maaf)

Bagaimana cara mendidik anak agar memiliki sopan dan santun dan hal2 baik lainnya?

=Sulit untuk mengharapkan anak (balita) melakukan sesuatu karena kesadaran bahwa hal tersebut baik atau pantas, demikian juga sebaliknya sulit untuk mengharapkan anak tidak melakukan sesuatu karena kesadaran bahwa hal tersebut tidak pantas atau tidak baik… hal termudah adalah melalui pembiasaan. Dengan terbiasa bersikap santun, anak akan merasa risih pada diri sendiri (atau mungkin tidak nyaman) ketika bersikap tidak santun. Pada anak dengan pemahaman moral yang tinggi, tentu akan lebih mudah memahami dan menerapkan hal tersebut (dengan beberapa , sementara pada anak dengan pemahaman moral yang kurang… (hehehe seperti anak saya..) tentu membutuhkan banyak ulangan-ulangan peringatan untuk akhirnya anak paham dan melakukan kebiasaan tersebut, dan biasanya sang ibu atau ayah harus terbiasa menahan malu….tapi kan malunya beda, antara yang melakukan kesalahan adalah anak yang masih balita, anak usia sekolah, atau anak
menjelang dewasa…)

=Yang paling utama: Doa

=yang tidak kalah penting… orang tua musti belajar lagi (belajar banyak bisa dari buku-buku bacaan, seminar2 parenting, dll. )

 
Sekedar berbagi cerita, contoh hal sederhana yang saya lakukan pada anak:

Bila kebetulan anak menutup pintu dengan kencang (membanting pintu), respon saya: ” Lho kok begitu caranya menutup pintu?”, kemudian “Coba, tolong tutup sekali lagi dengan baik”, dan anak saya haruskan (dengan cara bekomunikasi yang baik, tentu anak tidak akan merasa terpaksa) mengulangi menutup pintu, kali ini dengan cara yang lebih sopan.

==intinya: perbaiki saat itu juga, contohkan caranya jika perlu.

Bila kebetulan melihat orang yang kurang mampu dipinggiran jalan jakarta, yang saya lakukan adalah membuatnya (anak saya) melihat bahwa diluar sana ada anak-anak yang tidak seberuntung dia. Kadang untuk menngasah kepekaan sosialnya, ketika dia berbicara hal-hal yang terlalu ‘hebat’ atau berbuat yang tidak sepantasnya (seperti membuang-buang makanan), saya suka mengingatkan, betapa orang miskin akan sakit hati kalau mendengar perkataan atau melihat hal tersebut, kemudian menjelaskan alasannya

==intinya: saya tidak tahu intinya apa tepatnya, tapi hal tersebut membuat anak saya lebih peka terhadap kondisi orang lain…. kadang-kadang (masih kadang-kadang. ..)

Bila kebetulan anak saya marah, saya ingatkan untuk marah dengan cara yang baik. Peraturannya (untuk kami): ketika marah tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, tidak merusak barang2, hanya kata-kata yang baik yang keluar dari mulut, duduk sejenak atau berbaring bila perlu, bila marah tak kunjung padam juga… mandi (berwudhu), mengucap istighfar.

Hehehe..kok jadi panjang sekali ya?

semoga bermanfaat

salam,
vega

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s