Cacar Air

“Menurut saya, semua wanita harus pernah kena Cacar Air ketika masih kanak2.
Mengapa?
Agar ketika suatu saat nanti…
Ketika anak2nya sakit cacar air, ia masih bisa dengan tenang memeluk buah hatinya, tanpa takut tertulari.”

Cacar Air memang sedang musim. Bahkan mendahului musim rambutan yang baru mulai berbunga.
Di rumah saya kebetulan sedang panen nih. Cacar Air.
Berawal dari anak pertama saya, yang 11th. Walaupun sebenarnya hanya 5 hari, kemudian luka cacarnya mulai mengering, tetap saja dia meliburkan diri sampai 2 minggu. Bekasnya belum hilang, soalnya. Hehe…

Begitu tuntas 2 minggu anak pertama cacar air, mulailah giliran yang kecil muncul cacar airnya.
Untungnya kali ini serempak. Mumu (4th) dan Bebe (2th) sama-sama kena. Jadi perlakuan istimewa untuk keduanya bisa tetap sama.
Maksudnya mandi, makan, tidur, dan bermain tetap dilakukan bersama-sama.
Perhari ini, sudah harti ke-4,nih. Harapan saya cacarnya sudah maksimal keluar dan mulai masa-masa pemulihan bekas luka. Amiin.

Hal yang menarik dari panen cacar air ini adalah..betapa seorang anak sebenarnya hanya menuntut satu hal: “Perhatian”.
Saya ingat sekali awalnya, ketika si abang terkena cacar. Perhatian yang tidak biasa mau tidak mau tercurah untuk si abang. Membantunya berbedak sehabis mandi, melindungi si abang dari gangguan adik-adik kecilnya, dll.
Saya perhatikan.., bolak balik si Mumu dan Bebe solah mencari-cari luka di badannya. Dan setiap menemukan bagian yang gatal atau memerah di perut atau kaki yang bisa terlihat.. Komentarnya, “Sepeti Mas Aya.” Sambil menunjuk ke bagian badannya. Padahal itu hanya begas luka gigitan nyamuk yang rutin digaruk.😀

Hari di saat akhirnya Mumu dan Bebe terkena cacar air, benar-benar menggembirakan sekali bagi Mumu dan Bebe.
“Seperti Mas Aya, ya Mak.”
Dan mereka seolah menikmati sekali kemunculan luka cacar air di perut dan badan. Terutama Mumu. Cacar airnya selalu ditunjukkan pada siapa saja.
Rewel? Yah.. Harus diakui, memang tidak seperti biasanya. Kita semua tau bagaimana rasanya, sakit itu tidak enak. Dan mereka jadi lebih sensitif ketika mengantuk dan tidur… Maunya ditemani terus. Jika salah satu terbangun dan saya tidak ada di sebelahnya….bisa nangis deh. Kelanjutannya, yang masih tidur juga terbangun, dan ikut menangis.
“Air matanya keluar..hu,hu,huuu”, begitulah cara menangis sembari mencari perhatian.

Mumu bisa menangis sedih kalau saya tidak menggendongnya dengan kain selendang. Dia memang hanya saya gendong selendang kalau sedang sakit, sekarang. Alasan penolakan saya: “Mumu sudah berat”
Tapi dengan kondisi sekarang, Mumu tidak mau menerima alasan apapun.
Sementara Bebe, dengan luka cacar yang lebih banyak, hanya bilang, “Cakit anget”, dengan nada yang memelaaaas sekali.
Saya hanya dengan tersenyum menjawab, “Iya… Sebentar lagi cembuh yaa..”. Dan itu seperti sudah cukup menjadi penenang lho. Bebe menjawab, “Iyah”, dan kesibukan yang lain berlanjut deh. Bermain bersama, sedikit berebut mainan, banyak tangisan, akur kembali, seperti biasanya saja, bedanya badan mereka penuh luka cacar.

Tidak banyak berubah.. Yang pasti.. saya juga meliburkan diri dari aktivitas keluar rumah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s